
Solidaritas Guru, Tenaga Kependidikan, Siswa, Pramuka, dan OSIS Bersatu Meringankan Beban Keluarga Korban Gempa
KELUBAGOLIT, 3 September 2026 — Di tengah duka dan keprihatinan akibat bencana gempa yang melanda sejumlah wilayah di Flores, semangat solidaritas dan kepedulian justru tumbuh semakin kuat dari Kelubagolit, Adonara.
Keluarga besar SMA Negeri Kelubagolit menyalurkan donasi sebesar Rp12.600.000 kepada keluarga korban terdampak gempa Flores. Penyerahan bantuan berlangsung dalam kegiatan apel pagi bersama siswa, guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri Kelubagolit, Kamis (3/9/2026).
Bantuan tersebut diserahkan secara langsung kepada tiga orang guru SMA Negeri Kelubagolit yang keluarganya terdampak langsung oleh bencana gempa, yakni Eduardus Jemahu, S.Pd. asal Manggarai, Maria Goreti Mogi, S.Pd. asal Nagekeo, dan Modesta Pilma, S.Pd. asal Ende.
Penyerahan bantuan bukan sekadar seremonial. Di balik nominal Rp12,6 juta tersebut tersimpan kepedulian, keikhlasan, dan rasa persaudaraan warga SMA Negeri Kelubagolit terhadap saudara-saudari mereka yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana.
“Kepedulian Kita Adalah Obat bagi Duka Mereka”
Kepala SMA Negeri Kelubagolit, Alfonsus Liguori Rianghepat, S.Pd dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga sekolah yang telah mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan tersebut.
Dengan penuh haru, Kepala Sekolah menegaskan bahwa nilai sebuah bantuan tidak hanya terletak pada besar kecilnya nominal, tetapi terutama pada ketulusan dan kepedulian yang menyertainya.
“Kepedulian kita adalah obat bagi duka mereka. Sekecil apa pun pemberian kita, sangat berarti bagi saudara-saudari kita yang kini tertimpa bencana.”
Menurutnya, kondisi para korban masih jauh dari normal. Sebagian masih harus bertahan di tempat-tempat pengungsian dan tenda-tenda darurat, sementara aktivitas pendidikan anak-anak mereka juga ikut terganggu.
“Mereka masih tidur di tenda-tenda darurat, anak-anak mereka belum bisa bersekolah. Karena itu, jangan melihat bantuan ini dari besar kecilnya. Yang paling penting adalah bahwa hari ini kita hadir, kita peduli, dan kita menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian,” tegasnya.
Kepala Sekolah juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh siswa, guru, tenaga kependidikan, Pramuka, dan OSIS yang telah bergerak bersama mengumpulkan bantuan.
“Terima kasih banyak karena kita sudah memberi. Terima kasih atas kepedulian dan kasih kita hari ini. Untuk ketiga Bapak/Ibu guru kita yang keluarganya terdampak, mudah-mudahan bantuan yang tidak seberapa ini bisa sedikit meringankan beban mereka,” ungkapnya.
Ia kemudian mengajak seluruh warga sekolah untuk terus menyertakan para korban dalam doa.
“Dari Kelubagolit–Adonara kita berharap dan berdoa, semoga cobaan ini secepatnya berlalu. Semoga saudara-saudari kita yang terdampak diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesempatan untuk segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan seperti sediakala.”
Apresiasi untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT
Dalam kesempatan yang sama, Kepala SMA Negeri Kelubagolit menyampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bapak Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M yang telah memberikan izin kepada pihak sekolah untuk menyalurkan donasi secara langsung kepada keluarga tiga rekan guru yang terdampak langsung bencana.
“Atas izin dari Bapak Kepala Dinas, maka hari ini kami dapat menyalurkan donasi dari keluarga besar SMA Negeri Kelubagolit kepada keluarga tiga rekan guru kami yang terdampak langsung,” jelas Kepala Sekolah.
Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bagian penting sehingga aksi solidaritas keluarga besar SMA Negeri Kelubagolit dapat diwujudkan secara langsung dan tepat sasaran.
Pramuka Bergerak, OSIS Menggalang, Warga Sekolah Berbagi
Donasi sebesar Rp12.600.000 tersebut merupakan hasil penggalangan dana yang dilakukan secara bersama oleh berbagai komponen keluarga besar SMA Negeri Kelubagolit.
Gudep Pramuka SMA Negeri Kelubagolit menjadi salah satu kekuatan utama dalam aksi kemanusiaan ini. Para anggota Pramuka turun langsung ke tengah masyarakat dan melakukan penggalangan dana di tiga titik, yakni Pasar Mirek Witihama, Bundaran Desa Hinga, dan Waiwerang.
Dari aksi tersebut, Gudep Pramuka SMA Negeri Kelubagolit berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp9.000.000.
Tidak mau ketinggalan, OSIS SMA Negeri Kelubagolit juga menggerakkan siswa-siswi serta Bapak/Ibu guru dan tenaga kependidikan untuk turut berdonasi. Dari penggalangan yang dilakukan, OSIS berhasil menghimpun dana sebesar Rp3.600.000.
Dengan demikian, total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai: Rp12.600.000,-
Dana tersebut kemudian disalurkan kepada keluarga dari tiga orang guru SMA Negeri Kelubagolit yang terdampak langsung gempa Flores.
Pendidikan Karakter dalam Aksi Nyata
Bagi SMA Negeri Kelubagolit, aksi solidaritas ini tidak hanya menjadi kegiatan penggalangan dana. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang mengajarkan siswa tentang empati, kepedulian sosial, gotong royong, persaudaraan, dan kemanusiaan.
Para siswa belajar bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam jumlah yang besar. Sebuah pemberian kecil yang lahir dari ketulusan dapat menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Apa yang dilakukan keluarga besar SMA Negeri Kelubagolit juga menunjukkan bahwa jarak geografis bukanlah penghalang untuk berbagi kasih. Dari Kelubagolit, Adonara, kepedulian itu mengalir kepada keluarga-keluarga di Flores yang sedang menghadapi dampak bencana.
Dari Kelubagolit untuk Flores
Penyerahan donasi tersebut akhirnya menjadi sebuah pesan sederhana namun kuat: ketika saudara sedang berduka, kita hadir; ketika mereka membutuhkan, kita berbagi; dan ketika mereka berjuang untuk bangkit, kita mendoakan.
Keluarga besar SMA Negeri Kelubagolit berharap bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban keluarga yang terdampak sekaligus menjadi tanda persaudaraan dari Kelubagolit–Adonara untuk seluruh korban bencana gempa Flores.
Dari Kelubagolit untuk Flores.
Dari kepedulian untuk kemanusiaan.
Bersama kita kuat, bersama kita bangkit.
(Liputan : alfons rianghepat)



